Jumat, 23 September 2011

Sebuah lorong di kotaku

IDENTITAS BUKU
Judul buku : Sebuah lorong di kotaku
Kategori : cerita fiksi
Pengarang : Nh Dini
Penerbit : PT Gramedia
Tahun terbit : 1986
Tebal buku : 107 halaman
Tentang pengarang.

Nh Dini lahir tanggal 29 Februari 1936 di Semarang. Setamat SMA bagian Sastra (1959), ia mengikuti kursus Pramugari Darat GIA Jakarta (1956), dan terakhir mengikuti kursus B-1 Jurusan Sejarah (1957). Nh.Dini mulai menulis sejak tahun 1951. Pada tahun 1953 cerpen-cerpennya mulai dimuat di majalah Kisah, Mimbar Indonesia, dan Siasat. Selain menulis cerpen, Dini juga menulis sajak dan sandiwara radio, serta novel. Berbagai penghargaan telah diterimanya, antara lain pemenang Lomba Penulisan Naskah Skenario untuk sandiwara radio se-Jawa Tengah (1955), mendapat hadiah pertama untuk Lomba Penulisan Cerita Pendek dalam Bahasa Prancis se-Indonesia untuk cerpennya Sarang Ikan di Teluk Jakarta (1988). Pada tahun 1989 ia mendapat Hadiah Seni dari Kementerian PdanK untuk bidang Sastra. Pada tahun 1991 Dini kembali memperoleh Piagam Penghargaan Upapradana dari Pemda TK I Jawa Tengah. Selain terus berkarya, Dini juga sibuk menerima undangan-undangan ceramah mengenai sastra dan budaya di dalam dan luar negeri. Selain itu, ia juga mengelola sebuah taman bacaan untuk remaja dan anak-anak di Semarang, yang kegiatannya mencakup latihan Bahasa Indonesia dan diskusi.

Sinopsis
Sebuah novel yang bercerita tenang kehidupan dari sudut pandang seorang Dini kecil, yang dibesarkan bersama dengan saudara-saudaranya ketika perang kemudian berkecamuk. Bagi saya, novel ini adalah novel pertama yang saya baca yang menjadikan seorang gadis kecil sebagai tokoh utama. Awalnya saya tidak begitu paham jika ternyata gadis kecil itu adalah sang penulis saat ia masih kecil. Namun saat saya mengetahuinya, kekaguman saya pada beliau menjadi sangat besar. Tidak mudah menurut saya menyampaikan tulisan dari sudut pandang anak-anak sementara sang penulis sendiri telah bertahun-tahun melewati masa itu. Kecuali jika memang masa kecil itu sangat berkesan buat beliau. Hal ini yang menjadi nilai lebih buat saya, sebagai orang awam yang tidak begitu paham tentang kepenulisan. Karya ini yang kemudian membuat saya merasa saying untuk melupakan tentang masa kecil. Baik itu kesedihan, kesenangan, dan banyak hal sepele yang kemudian saat ini menjadi begitu sangat bermakna.
Novel karya Nh. Dini sering dikelompokkan ke dalam novel-novel kenangan, karena novel ini bercerita tentang kihidupan Dini sebagai pengarangnya. Dini kecil hingga remaja itu lebih tepatnya. Maka aku atau saya dalam novel itu menokohkan Nh. Dini sendiri. Berikut adalah sinopsis novel Sebuah Lorong di Kotaku.

Akhirnya ibu mendapatkan sebuah rumah yang menyenangkan. Kami hidup tentram dalam bimbingan ibu yang penuh kelembutan dan ayah yang berwibawa serta bijaksana.
Aku kesepian dan kadang-kadang merasa bosan bermain sendirian, meninggu saudaraku pulang sekolah.
Suatu hari kami pergi ke rumah di desa, menumpang kereta api dan andong. Karili sangat gembira setelah sampai di rumah kakek. Demikian juga kakek. Tak henti-hentinya kami berbincang-bincang dengan kakek. Ayah pun tak lupa menanyakan keadaan dan kesehatan kakek.
Hari kedua aku diajak Paman Sarosa melihat isi kebun kakek, memetik kelapa, melihat kejernihan air sungai yang mengalir di kebun. Terasa riyaman kehidupan di desa. Terdengar derit tali timba, bunyi hewan, kicau burung, dan udara segar.
Banyak yang kulakukan selama di rumah kakek. Turut menjaga ladang, menghalau burung, ikut memandikan kerbau anak gembala bersama kakakku, Teguh Nugroho.
Dua hari telah berlalu aku harus pulang meninggalkan desa kakek, berpisah dengan paman. Aku merasa sangat sedih.
Di Madiun kami singgah di rumah Pak De dan Bu De. Di rumah ini kegiatan kami selalu diawasi. Bu De selalu hendak serba teratur. Karena itu aku merasa tidak puas.

Karena keadaan perang ibu mempersiapkan banyak makanan. Makanan itu disimpan di atas loteng. Setiap malam banyak tetangga datang ke rumah untuk mendengarkan siaran radio dan mendengar tentang berita perang.
Aku dijemput Paman Sarosa untuk berlibur selama bulan puasa di tempat kakek. Aku tinggal di rumah kakek bersama Maryam. Aku senang beneman dengan Maryam karena kami mempunyai beberapa persamaan.
Aku mulai sekolah. Semua kakakku sekolah di HIS. Di HIS semua murid harus berbahasa Belaflda. Tapi ayah selalu mewajibkan kami berbahasa Jawa.

Suatu hari ketika aku asyik bermain dengan teman-teman Maryam memaksa pulang karena kami akan mengungsi ke kampung Batan. Kami mengungsi di sini bersama-sama pengungsi lain. Karena ibu tidak mau mengungsi, ayah membuat lubang perlindungan di bawah pohon mangga. Untuk penutupnya digunakan ranting-ranting dan daun. Dindingnya dilapisi beberapa helai kasur.

Semua sekolah dan kantor tutup. Kendaraan umum tidak boleh lagi hilir mudik. Kekurarigan bahan makanan mulai terasa. Indonesia tidak lagi diduduki Belanda, melainkan oleh Jepang. Belanda menyerah kalah kepada Jepang dan seluruh daerah jajahan Belanda jatuh ke tangan Jepang.***

Berikut ini adalah sedikit ringkasan dari novel tersebut :

Ketika itu adalah musim penghujan yang mempengaruhi keadaan sekitar halaman rumah keluarga Dini. Ayam-ayam peliharaan tidak memiliki kesempatan berjemur seperti hari-hari yang lain karena menghilangnya matahari. Jadi untuk mengisi kegiatan, ada beberapa ekor yang keluar kandang untuk mencari keong-keong kecil. Tapi ada juga yang sampai masuk ke dalam ruangan makan, entah apa yang akan diperbuat, hingga akhirnya diketahui orang rumah dan disusul dengan usiranmarah.
Sedangkan di dapur, satu ekor ayam yang bernama Blirik dengan enam anaknya yang kuning bersih selalu rajin mengunjungi Bu Salyo, yang cukup dipanggil Ibu oleh keluarganya.Setiap kali ada telur yang menetas, Ayah atau bapak lima anak dari keluarga Dini selalu memisahkan induk ayam dengan anaknya. Jika musim mendukung, tiga sampai empat induk akan memisahkan telur-telurnya.
Pagi itu adalah suasana seperti pagi-pagi yang telah lewat sebelumnya. Seluruh kakak-kakak Dini; Heratih, Nugroho, Maryam, dan Teguh telah berangkat sekolah dan Ibu duduk di sudut ruang makan menunggu Embok Blanjan, seorang perempuan penjual sayuran dan bahan makanan lainnya. Penjaja itu juga selalu membawa berbagai jajanan, makanan asin atau manis yang sedap lezat dibungkus rapi dengan daun pisang, dan kali ini Dini lebih memilih Tiwul, yakni makanan kecil yang terbuat dari ubi.Setelah Embok Blanjan mengemasi dagangan, maka dimasukannya kembali dagangan itu ke dalam bakul atau ke atas tampah, lalu dia pamit dengan sopan.Karena di belakang rumah sedang banjir disebabkan hujan yang sangat lebat, maka dengan tidak sabar Dini langsung menyatakan keinginannya untuk turut menyerok ikan bersama Ayah, walaupun pada akhirnya Ibu sama sekali tidak menyetujui.
Kebun belakang rumah yang luas saat itu tergenangi air cokelat, dan tidak dapat diperkirakan berapa meter tingginya. Pohon kluwih, mangga lalijiwo, pohon mangga biasa, dan kedondong seperti mengapung lalu tiba-tiba muncul dari garis permukaan air, sedangkan pohon pisang yang paling banyak tumbuh dan tersebar di segala penjuru kebun, batangnya berjuluran. Tidak hanya itu, kandang itik pun turut tenggelam pula. Untung saja Ayah membuat atap kandang itu lebih tinggi hampir menyentuh atap dapur. Di dalamnya Ayah juga membuat sangkar yang bertingkat-tingkat agar ada bagian kering untuk tidur atau bertengger, tetapi yang masih bisa dicapai oleh itik-itik itu.Tentu saja itik-itik itu merasa sangat berbahagia, bisa hilir-mudik berenang dalam kandangnya, walaupun ada juga yang mencocok-cocok bambu seakan berusaha untuk keluar.
Di sisi lain dari panorama tersebut, Dini lebih menyukai berada di dalam rumah, biasanya untuk bermain-main dengan anak pembantu sebaya di bawah sebuah meja bilyar di tengah pendapa, bertudungkan kain batik tua yang menutupi meja bilyar, dengan ujung-ujung kain yang saling berkaitan. Dan itulah waktu-waktu panjang yang telah Dini lalui kala menunggu ayah dan kakak-kakaknya pulang.

Suasana makan di rumah keluaraga Dini memang berjalan dengan sangat teratur, tidak boleh banyak berbicara dan makanan harus dinikmati dalam diam. Mengunyah juga harus dengan lambat, tanpa suara dengan mulut tertutup. Selain itu, jika makan menggunakan tangan, mereka harus mencuci tangan terlebih dahulu.Dan pada suasana makan itulah, Ayah tiba-tiba memutuskan bahwa mereka akan berkunjung ke desa, rumah dari orang tua Ayah saat liburan sekolah di suatu kesempatan. Liburan ke desa yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga di depan mata. Untuk mempersiapkan semua itu, Ibu membawa makanan secukupnya, yang setidaknya harus cukup untuk kebutuhan keluarganya. Beliau kurang setuju kalau membeli makanan di perjalanan, kecuali buah-buahan atau jenis makanan khas dari daerah tertentu. Alasannya sederhana. Selain soal keuangan, makanan dari luar tidak akan menjamin kebersihan.Begitu juga dengan kebutuhan sederhana untuk sehari-harinya. Ibu harus menyiapkan pakaian, sabun cuci, sabun mandi, dan yang terpenting adalah obat gosok gigi, karena walaupun makanan di desa berlimpah, tapi kebutuhan sesederhana itu tampaknya sangat sulit dibeli.
Stasiun Tawang adalah tempat pertama kali yang harus dituju sebelum memulai perjalanan dengan menggunakan kereta. Setelah melewati pintu masuk, mereka pun mencari kereta yang bersangkutan. Untunglah kereta itu berada di rel sepur pertama tepat di depan pintu gerbang. Kemudian setelah semuanya naik, kereta akhirnya berangkat juga. Mereka siap menuju Tegalrejo, desa dari kakek Dini, Nugroho, Maryam, Heratih, dan Teguh.Perjalanan yang panjang saat itu membuat Dini terbangun dari tidurnya ketika kereta berhenti di suatu tempat yang bernama Kedung Jati. Lalu setelah lama beristirahat di sana, untuk selanjutnya kereta memulai perjalanannya lagi dan sampai di Surakarta. Mungkin tidak ada pilihan lain selain turun untuk ganti kereta. Kereta menuju Madiun baru akan berangkat dua setengah jam lagi. Oleh karena itu, Ayah telah mengusulkan pada Ibu agar anak-anaknya diberi makan terlebih dahulu. Untung saja setelah makan dan kemudian menuju ke peron untuk naik kereta, mereka menemukan kereta yang cocok untuk berangkat ke Madiun.
Tiba di Madiun, mereka lalu turun. Seorang pemuda yang kelihatannya sebaya dengan Heratih namun lebih tinggi kemudian menjemput mereka. Dini baru tahu kalau ia adalah Paman Sarosa yang memang adalah pamannya sendiri. Tapi tampaknya usianya memang hampir sama dengan Heratih.Setelah dilanjutkan dengan andong, mereka beriring-iringan menuju stasiun bis yang akan membawa mereka sekeluarga sampai ke Gorang Goreng. Saat itu matahari hampir terbenam, walaupun udara masih cukup terang.Jalan sepanjang Tegalrejo ternyata cukup menyulitkan. Banyak lubang-lubang bekas genangan air hujan, batu-batu gunung, ataupun tumbuh-tumbuhan berduri di sekitarnya. Tapi itu semua tidak cukup menghalangi mereka untuk cepat-cepat bertemu dengan kakek maupun nenek sebentar lagi.
Sesampainya di rumah kakek, hari sudah mulai gelap. Kakek yang sedang duduk bersila di atas amben rendah, bertumpu pada beberapa bantal di sampingnya. Dengan ditemani tiga orang di depannya, beliau berbicara dengan suara rendah di ruangan yang diterangi oleh lampu minyak. Saat itulah, seluruh keluarga Dini saling bergantian bersujud dan sebagai gantinya kakek balas mencium dahi mereka.
Menjelang malam hingga paginya Dini dan keluarganya tidur di amben rendah yang memenuhi sebuah bilik. Lapisan yang ada di atasnya tipis dan rata, sehingga tidak menyebabkan sakit punggung.Berbicara tentang kakek, beliau adalah seorang Kyai yang akrab dipanggil sebagai Kyai Wiryobesari. Para muridnya dibantunya belajar mengaji serta berpikir dengan dasar kebajikan yang diajarkan Tuhan.Selama di desa, Dini mengakui kalau ia lebih sering berada bersama nenek atau Paman Sarosa. Karena bersama mereka, berarti Dini akan lebih sering berada di dapur atau di kebun. Suatu malam, Ibu menceritakan tentang segala kebiasaan kakek. Kata Ibu, kakek lebih banyak makan buah dan sayur daripada nasi dan lauk daging maupun ikan. Setiap pagi, di atas dingklik yang tersedia di samping bantal-bantal di amben tempat duduknya, selalu ada cangkir besar dari panci yang berisi susu sapi atau kambing, tergantung pada hasil pemerahan susu dari ternak sendiri. Di sana juga ada sebuah keranjang anyaman yang penuh dengan buah-buahan.Kadang-kadang pada waktu tertentu, kakek menyendiri dalam sebuah bilik, tanpa serberkas cahaya apapun. Di sana dia tinggal selama empat puluh hari empat puluh malam, hidup hanya dari secangkir susu setiap minggu. Lalu empat puluh hari lainnya, hidup seperti biasa, tetapi tetap tanpa nasi. Selama itu, kakek hanya makan buah-buahan. Tapi, walaupun begitu, kakek sangat tahu menjaga diri. Puasanya selalu diatur agar kebutuhan jasmani akan gizi dapat terpenuhi. Beliau juga patuh mendengarkan nasehat saudara-saudara atau muridnya yang menjadi dokter. Oleh sebab itu, kesehatan badan kakek selalu terjaga. Badannya yang kurus dan tipis itu tidak kering. Pandangannya masih tajam, begitu pula dengan pendengarannya.
Beralih ke Paman Sarosa. Suatu hari, paman mengajak Dini untuk menunjukkan betapa besarnya sawah yang mereka miliki. Beliau mengajak Dini ke tengah genangan petak, lalu naik ke atas gubug. Ketika padi mulai terisi, burung-burung berdatangan dengan sendirinya bagaikan diundang. Saat itulah sang penjaga padi mengendalikan alat pangusir burung menurut kemauannya. Selain itu juga, Paman Sarosa membawa Dini ke sebuah sungai yang berair dangkal, kelihatan tenang, dan berair jernih. Pokoknya Paman Sarosa memang membuat Dini jatuh cinta pada desa kakeknya itu. Tapi sayang sekali, semuanya berlalu begitu cepat. Dini dan keluarganya harus menyudahi kesenangannya di desa itu dan berkelanjutan di Ponorogo, tempat orang tua dari Ibu Dini, yang biasanya disapa Pak De atau Bu De.Kakek maupun Nenek sangat jauh berbeda dengan Pak De ataupun Bu De. Bahkan jauh berbeda ditinjau dari segi manapun. Selama tiga hari di Ponorogo, Dini hampir tidak mengira kalau kenangan yang terpaku dalam ingatannya bukanlah keakraban keluarga. Rumah Pak De ataupun Bu De hampir sama seperti rumah orang lain tempat Ayah dan Ibunya berkunjung. Tak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa Dini adalah cucu dari si pemilik rumah.
Akhirnya tiba juga Dini dan keluarganya meninggalkan Ponorogo tanpa suatu penyesalan apapun.Begitu tiba di rumah, yang pertama kali dijumpai adalah suatu kesibukan yang seperti tidak semestinya. Ibu membeli kaleng-kaleng yang bisa ditutup rapat sebagai tambahan yang telah ada, bertumpukan di dalam loteng. Dalam jarak waktu teratur, Ibu memasukkan kerak kering, rengginang, beras, kacang hijau, ikan asin, dendeng, gula, dan kopi ke dalam kaleng-kaleng itu. Dengan teratur pula, Ayah menaikkannya ke ruang di bawah atap.Tampaknya, kata loteng itu bukanlah arti yang sebenarnya. Mungkin di sana tersimpan berbagai barang yang wajib disembunyikan dari pandangan umum. Sejak masa kecil Dini, itu merupakan sesuatu yang penuh dengan rahasia.Setelah beberapa lama sejak kembali ke rumah mereka, kesibukan pada saat sebelum Lebaran tiba, membuat Dini dan kakaknya, Maryam harus mengunjungi rumah kakek lagi. Sementara Ayah, Ibu, dan Heratih akan menyusul setelah mereka.
Liburan Puasa ternyata membuat Dini menemukan dua orang kawan yang sebenarnya, yaitu Paman Sarosa dan Maryam. Dari pertama kali mengenal paman, ia sama sekali tidak pernah memperlakukan Dini sebagai anak kecil. Sedangkan Maryam membuktikan kalau dia dan Dini lebih sering bersama sejak awal kunjungan mereka ke Ponorogo. Kesempatan tinggal di tempat kakek lebih menunjukkan kesamaan rasa dalam segala hal. Berbeda dengan saudara laki-laki lainnya ataupun dengan Heratih sekalipun. Heratih terlalu banyak menunjukkan sifat keibuan sehingga membuat Dini lebih menganggapnya pamong daripada seorang kawan.Beberapa hari sebelum Lebaran, orang tua dan kakak-kakak Dini yang lain segera menyusul ke rumah kakek. Kesibukan menyambut Lebaran antara lain memetik janur kelapa dan menganyamnya menjadi bungkus ketupat. Sedangkan waktu Lebaran adalah waktu berkunjung. Banyak murid kakek datang bersujud, memohon maaf atas segala kesalahan mereka. Untuk itu, nenek telah menyiapkan makanan secukupnya. Suasana khidmad berganti menjadi meriah karena banyaknya anak-anak yang berkumpul di halaman.
Bagi Dini, sekolah adalah sebuah tempat yang akan mengurungnya dari pagi sampai siang, tempat yang mengharuskannya duduk tak bergerak di atas bangku sempit dan tinggi. Yang jelas, perasaan khawatir, takut, sekaligus ingin tahu, semuanya bercampur aduk dalam benak Dini saat itu. Tapi itu tidak dapat membuat Dini untuk menghindari sekolah. Hari pertama bersekolah, Dini diantarkan ibunya dengan menggunakan dokar. Sampai di halaman tempat yang membuat Dini ragu-ragu itu, anak-anak yang lain segera berpisahan, mencari kawan-kawan baru mereka. Sementara Ibu menyalami beberapa orang diantaranya, menyorong Dini agar berkenalan dan berbicara dengan anak-anak sebayanya untuk menunggu bel masuk berdentang.
Akhirnya tiba juga saatnya untuk masuk ke kelas yang baru. Seorang wanita berdiri di depannya, membawa sebuah buku tulis terbuka dan sebuah pensil. Dia memanggil nama anak-anak asuhannya, termasuk Dini. Ketika masuk ke dalam kelas, wanita yang tadi memanggil nama-nama muridnya, kini menunjukkan tempat duduk mereka masing-masing. Bukan bangku tinggi yang sempit, melainkan bangku yang rendah dan seukuran. Melihat itu, Dini seakan mempunyai firasat baru yang menyatakan kalau dia akan senang bersekolah di sana. Dan firasat itu semakin merupakan bujukan nyata saat ia duduk di atasnya.Sepertinya Dini sangat bangga memiliki sekolah yang terletak di tengah-tengah tempat perumahan Pendrikan Tengah yang nyaman. Wanita yang pertama kali ia temui saat mengajar ternyata bernama Bu Sus yang selalu memakai sanggul rambut yang terlalu ditarik ke belakang, tubuh lampai, lebih tinggi dari ibunya tapi suaranya lemah lembut. Begitulah suasana menyenangkan yang dialami Dini saat bersekolah.Namun, pada suatu hari suasana tiba-tiba saja berubah menjadi menakutkan.
Saat itu adalah sore hari. Setelah beristirahat, Dini bermain-main di belakang rumah bersama anak-anak lain sebayanya. Dan pada waktu itulah mendadak terdengar suara-suara letusan, diiringi raungan sirene tanda bahaya. Maryam langsung menariknya pulang. Seketika itu juga anak-anak lain pun dipanggil oleh orang tua mereka masing-masing.Meninggalkan kampung. Itulah yang pertama kali dikatakan Ibu sambil mengepak beberapa bungkusan serta koper sedangkan Heratih sedang menyumpalkan beberapa pakaian yang baru ditarik dari kain jemuran. Sepertinya tidak ada waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi, kecuali kalau Dini dan keluarganya harus mengungsi ke seorang kenalan Ayah di Batan, tanpa Ayah tentunya.Kampung Batan terletak di tepian lain Sungai Semarang yang memanjang di belakang rumah Dini. Menurut pengetahuannya, tidak pernah ada kenalan atau kerabat yang tinggal di sana. Tetapi Ayah mempunyai jalan pikiran lain mengenai hal itu.Ayah sendiri tidak bisa meninggalkan kampung karena harus ada seseorang yang tinggal untuk berjaga-jaga. Siapa tahu ada yang merampok rumah-rumah penghuni lain selagi semuanya pergi. Barangkali itu adalah jalan pikiran yang terbaik, walaupun Dini sendiri tidak begitu suka kalau ayahnya tidak bersamanya.
Sewaktu menyeberang jembatan, Maryam menunjukkan warna air sungai cokelat dipenuhi limpahan warna kemerahan yang tampak sangat mencurigakan. Mula-mula yang ada dalam pikiran Dini itu adalah darah. Pikiran tentang perang dengan segala kengeriannya membuat pikiran Dini menjadi gelap. Lalu kakaknya menerangkan bahwa itu adalah minyak bakar bercampur air. Mungkin saja di beberapa tempat persediaan bahan bakar Belanda telah dibom atau dihancurkan.Lalu mereka semua naik ke tepian Kampung Batan. Jauh di tengah kampung, Ibu menuju ke sebuah rumah pengungsian dengan emper melonjok ke depan seperti sebuah pendapa, tetapi lebih sempit. Masing-masing keluarga membentuk pojok juga lingkaran sendiri-sendiri dan kemudian berangsur-angsur menjadi penuh. Usai makan, tiba-tiba terdengar tanda bahaya udara. Dari jauh, terdengar pula suara pesawat terbang dan disusul letusan bom. Lalu pesawat lain mendekat, diikuti bunyi gemuruh seperti gunung meletus. Berkali-kali seluruh rumah bergetar karena letusan bom yang jatuh entah di mana. Pokoknya suasana saat itu benar-benar sangat kacau.Setelah beberapa waktu berlalu dalam ketakutan, akhirnya keadaan berubah menjadi sunyi senyap. Jauh sayup-sayup, suara pesawat terbang telah menghilang. Dini sama sekali tidak mempercayai penglihatannya. Kedua matanya tidak bohong ketika melihat orang-orang sekitar, termasuk keluarganya, telah selamat dari bahaya.Dini juga hampir tidak mempercayai pendengarannya saat ia tahu bahwa tempat yang dibom Belanda, bukanlah kampung tempat ia tinggal, melainkan kampung Kembangpaes.
Sejak saat itu, setiap hari baik siang maupun malam seringkali terdengar serangan. Semua kantor dan sekolah-sekolah ditutup. Tapi keluarga Dini memutuskan untuk tetap tinggal di dalam rumah asal mereka. Karena tidak ada sekolah, Ayah juga memutuskan untuk meneruskan pengajaran anak-anaknya. Setiap hari, Dini patut merasa senang karena Ayah telah mengajarinya mengenal huruf-huruf cetakan, lalu membacanya kata demi kata. Atau juga membantunya menyalin huruf Latin yang telah tersedia.Lalu datanglah hari itu, hari saat Belanda akhirnya meninggalkan kota.
Saat itu seperti hari kemenangan yang sangat bersejarah. Tanpa membuang waktu, Teguh lalu menghambur menuju Harmoni, sebuah gedung megah berhalaman yang terletak di samping kampung untuk mengambil banyak makanan atau minuman, saat tahu kalau tempat itu sedang penuh dengan rakyat-rakyat kampung yang sedang membutuhkan. Awalnya, Ibu mencegatnya. Tapi itu tidak akan mencegatnya untuk mengurungkan niat.
Di saat suasana yang lega dan bergembira, tiba-tiba Maryam bertanya siapa yang akan memimpin untuk waktu selanjutnya. Ibu bilang, berikutnya adalah Jepang, yang akan memimpin dengan waktu yang sangat singkat, walaupun tidak ada yang tahu seperti apa bentuk pimpinannya suatu hari nanti.

Selasa, 18 Mei 2010

Ramuan Ajaib

Terdengar gelak tawa kakek dan neneknya. Tapi Yogi tidak ikut tertawa. Ia tetap serius. Dari balik pintu ia merekam semua percakapan kakek dan nenek. Telinganya didekatkan daun pintu, agar suara kakek dan nenek yang mulai tua terdengar jelas. Yogi benar-benar tidak ingin ada sepatah kata pun yang terlewat. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk. Tetapi kadang telinganya dipaksa untuk tegak keika suara kakek dan nenek tidak terdengar jelas.

Esok hari sepulang sekolah, teman-teman Yogi berkumpul dan bersiap ke rumah Mia.
“Gi! Ke mana? Nggak ikut ke rumah Mia?”
Yogi mengelus botaknya beberapa kali. Dengan santai ia melangkah dan bersiul-siul.
“Buat apa ke rumah Mia?” Tangannya berkacak pinggang memandang teman-temannya.
“Ya, belajar dong! Besok kan, ujian matematika. Banyakk rumus yang harus dihafal, lo!”
“Kalian saja yang belajar, aku tidak perlu melakukannya.”
“Kok bisa begitu?”
“Tentu bisa, karena aku telah mendapatkan resep mujarab dari kakekku.”
“Resep, apa sih?” Tanya Mia penasaran.
“Resep agar sukses ujian.”
“Alaa…ah, paling juga disuruh belajar.”
“Wah, kalian salah. Pokoknya ini rahasia!” jawab Yogi sambil mengerling genit.
“Dasar pelit! “ Mia mengomel sebal.
“Jangan-jangan kakeknya Yogi dukun.” Komentar Anton.
“Ha…ha…ha… dipanggil aja Mbah dukun.” Jaka tertawa terbahak-bahak.
“Jangan sembarangan, ya! Kita lihat saja besok.” Yogi pergi sambil menggerutu sepanjang jalan menuju rumah.

Malam telah tiba. Yogi segera mempersiapkan keperluannya. Catatan matematika, segelas air putih, sesendok gula dan sedikit garam. Dengan hati-hati tangannya membakar lembar demi lembar catatan matematikanya. Abu bakaran ditampung di piring palstik yang diambilnya dari dapur. Beberapa lembar catatannya terbakar. Dengan hati-hati tangan Yogi memasukkan abu ke dalam gelas sedikit demi sedikit.

“Yogi.. Sedang apa di kamar, Nak? Kok ada bau benda terbakar dari kamarmu.” Teriak Ibu dari ruang tengah.

Yogi terperanjat. Dia mendekat ke pintu, mengamati lubang kunci dengan seksama. Ia memastikan pintu kamarnya telah terkunci.
“Tidak apa-apa kok, Bu. Yogi hanya mempersiapkan untuk ujian besok.” Yogi pun melanjutkan pekerjaannya. Diaduknya larutan abu yang diberi gula dann garam dengan hati-hati. Ia tidak ingin orang lain mengetahui apa yang sedang dilakukannya di kamar.

“Huek..kk!” Yogi berlari ke jendela, memuntahkan isi mulutnya.
“Ternyata rasanya tidak enak. Bagaimana Kakek dulu meminumnya, ya?” di pandanginya air keruh yang mengisi setengah gelas. Yogi membayangkan dirinya akan menjadi bahan olok-olok teman-temannya jika tidak bisa mengerjakan ujian.
Dengan mata terpejam dia paksa meminumnya sekali lagi.
“Huek…kk!.. Huek..kkk!!”
“Yogi..” Tok..tok…tok.. Suara Ibu di depan pintu. “Ada apa,, Nak?”
Uhuk..kk! Uhuk…k! Yogi terbatuk-batuk.
“Yogi hanya kesedak, Bu.”

“Buka pintunya, Ibu buatkan susu hangat untukmu.” Yogi terkesiap. Segera ia sembunyikan gelas yang berisi ramuan ke dalam lemari buku. Dengan wajah dibuat setenang mungkin ia membukakan pintu untuk ibunya.
“Benar kamu tidak apa-apa?”
Yogi menggeleng. Ibu menaruh segelas susu di meja belajarnya. Yogi was-was, takut ibunya menemukan gelas yang disembunyikan.

“Kakek, di mana?”
“Ada di kamarnya. Kenapa?”
“Enggak, kok Yogi tidak mendengar suaranya.” Tak lama kemudian Ibu Yogi meninggalkan kamar. Yogi mengambil gelas yang disembunyikan di kolong tempat tidur. Diamatinya gelas itu lama-lama.
Kuteruskan, nggak ya? Tanya Yogi dalam hati. Yogi mengelus botaknya berkali-kali. Diambilnya sisa catatan yang belum dibakar. Begitu banyak rumus yang harus dihafalkan. Ah, daripada susah-susah menghafal, mending kuteruskan minum ramuannya.

Kali ini Yogi menyiapkan segelas air putih yang baru diambilnya dari ruang makan. Yogi mencoba meminum lagi ramuan ajaibnya.
“Huekk..k!! Huekk…k!!” Kembali Yogi mual. Dia segera berlari ke jendela dan memuntahkan ramuannya. Dengan cepat tangannya mengambil air putih dan meminumnya.
“Aku benar-benar tak dapat meminumnya.” Yogi mulai pasrah. Wajahnya agak pucat. Kepalanya pusing.

“Aha..! Bukankah kakek dulu juga merasa pusing dan mual? Artinya ramuan ini mulai bekerja.” Yogi sedikit gembira mengingat perkataan kakeknya. Ia pun memilih tidur dengan harapan besok pagi semua rumus yang diminumnya sudah melekat di kepalanya.

* * * *
Jam setengah tujuh pagi. Yogi masih tidur di kamarnya. Berkali-kali ibunya mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban. Dengan sedikit khawatir, tangan ibu Yogi mencoba menarik handel pintu.
Klek. Pintu terbuka. Rupanya Yogi lupa mengunci pintunya setelah mengambil air putih tadi malam. Ibu Yogi memegang keningnya. Panas. Rupanya Yogi demam.

Yogi membuka matanya dengan berat.
“Kamu sakit, Nak?”
“Kepalaku pusing, Bu. Aku juga kedinginan.”
“Kalau begitu, jangan masuk sekolah dulu. Istirahat di rumah saja.”
“Tapi hari ini Yogi ujian, Bu.”
“Nanti Ibu telepon ke sekolah, agar boleh mengikuti ujian susulan.”
Yogi hanya bisa pasrah.
“Ibu telepon ke gurumu, ya.” Yogi mengangguk. Sebelum ibunya keluar Yogi memanggil.
“Bu, tolong panggilkan Kakek, ya.” Ibu Yogi mengangguk dan pergi meninggalkan kamarnya. Tak lama kemudian Kakek telah muncul di depan pintu kamar Yogi.

“Aduh Yogi, mau ujian kok sakit.” Kakek mendekat dan duduk di tepi dipan. Kakek Yogi melihat isi kamar. Matanya langsung tertuju pada gelas yang berisi cairan gelap.

“Yogi minum, kopi?”
Kepala Yogi menggeleng.
Kakek melangkah mendekat meja dan mengangkat gelas. Diciumnya isi gelas denngan hati-hati.
“Kamu membuat rauan ini?”
Yogi mengangguk pelan.
“Siapa yang mengajari?” Tanya Kakek bingung.
Dengan wajah murung Yogi menjawab.
“Dua hari yang lalu aku mendengar Kakek sedang bercerita tentangramuan ajaib kepada nenek. Makanya aku mencobanya.”

“Ha..haa..Haa. Ooh.. itu rupanya penyebabnya. Makanya sekarang Yogi sakit.”
“Tapi Kakek dulu juga sakit kan setelah minum ramuan itu?”
“Ya. Kakek langsung sakit.”
“Dan Kakek jadi pintar matematika, kan?”
“Waduh! Pasti kau tidak mendengarkan dengan lengkap cerita kakek waktu itu. Setelah minum ramuan itu, kakek masih ikut ujian. Dan hasilnya, kakek dapat nilai tiga!.”

“Ha??! Tiga?” Yogi tidak percaya mendengarnya. “Lo, bukankah kakek pandai matematika?”
“Ya, karena setelah itu Kakek rajin belajar agar semua rumus matematika dapat melekat di kepala. Bukan dengan meminum rumus-rumus itu.”
Yogi semakin lunglai. Karena ia berharap dapat pandai matematika tanpa harus susah-susah belajar.

“Yogi ingin menghafal rumus-rumus matematika?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu,, salin semua rumus di bukumu. Lalu tempelkan rumus-rumus itu di dinding kamar, di kamar mandi, dan bawalah kemanapun kau pergi. Dan bacalah jika senggang. Kakek yakin kau akan dengan mudah menghafalnya.”
“Baiklah. Aku akan mencobanya.”
“Ingat, Yogi. Tidak ada jalan pintas untuk pintar. Semua harus dimulai dengan usaha dan kerja keras. Sekarang istirahat dulu.”
Yogi pun mengerti, kalau ingin pintar ia harus belajar, bukan dengan minum ramuan ajaib.

Senin, 17 Mei 2010

Selembar Uang 5000

Anak dalam gendongan Sri belum diam. Semakin Sri berusaha menenangkannya, tangis anak itu semakin pecah. Sri mulai kuwalahan untuk membujuknya.
“Cup-cup, Nak. Sebentar lagi Bapak datang.” Bujuk Sri sambil menimang-nimang dalam gendongan.
“Mungkin dia lapar, Sri.”
“Mungkin iya, Mbak.”
“Tadi anakmu sudah makan belum ?”
“Belum.”
“Kalau begitu cepat kasih dia makan.”

Sri tersenyum. Menelan ludah yang terasa kian hambar di lidah yang sejak kemarin belum kemasukan makanan. Tawar dan getir adalah hiasan hidupnya.
“Kok malah senyam-senyum. Wong anak sedang rewel kok dibiarkan.”
“Anu, Mbak. Saya belum masak hari ini.” Jawab Sri dengan suara tercekat.
Kening Wati berlipat seketika. Matanya menatap jam dinding yang sedang bergerak menunju angka sepuluh.

“Sampai siang begini belum masak? Kenapa?”
“Ehm… “ Sri agak canggug meneruskan kalimatnya. “Beras kami habis.”
Wati mulai menangkap permasalahan Sri, yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Nasibnya dengan Sri tidak jauh berbeda. Hanya saja Wati belum dikaruniai anak meskipun telah menikah hampir lima tahun.
“Kalau habis, kenapa tidak beli Sri?” Pancing Wati.
“Sebenarnya pengen beli, Mbak. Tapi… kami sedang tidak punya uang.” Wajah Sri menunduk, menyembunyikan rasa sedih yang telah menjadi teman dalam kesehariannya. Sri tahu, tak ada gunanya berpura-pura di depan Wati. Wanita itu tahu persis bagaimana kehidupannya. Hanya saja Sri tidak enak hati kalau dengan keterusterangannya membuat Wati iba dan ikut bingung mencari jalan keluarnya. Bagaimanapun Sri juga menyadari kalau nasib Wati juga tidak lebih baik darinya. Mereka sama-sama perantau dari kampung yang ingin merubah nasib di kota seperti Surabaya. Hanya saja rumah petak mereka letaknya agak berjauhan.

“Kami menunggu Bapaknya Dian pulang.” Ucapnya lirih. Tangan kusamnya mengelus kening Dian, anak semata wayangnya yang telah tenang. Sebenarnya Sri tak yakin dengan ucapannya. Pekerjaan suaminya yang hanya penarik becak tidak bisa diharapkan setiap saat. Padahal tiap hari mereka harus memberi setoran kepada juragan becak. Sejak kemarin ia dan suaminya belum makan. Hanya minum air putih yang diberi sedikit gula. Segenggam beras yang tersisa dia buat bubur untuk anaknya. Dan hari ini Sri benar-benar tidak memliki apa-apa. Hanya beberapa sendok gula di toples. Sri dan suaminya memilih mengalah. Air gula yang ada mereka berikan untuk Dian.

“Sri.” Sapa Wati lembut. “Kamu tidak biasa hutang?”
Sri menggeleng lemah. Ia begitu memegang erat wejangan suaminya agar tidak membiasakan berhutang. Hutang hanyalah jerat yang bisa mencekik setiap saat. Apalagi tak ada yang bisa dijadikan jaminan untuk membayar jika si peminjam suatu saat datang menagih. Itulah prinsip yang ditekankan suaminya.
Wati trenyuh. Perasaan iba muncul tanpa bisa dicegahnya. Apalagi saat matanya menatap Dian yang telah pulas dalam gendongan Sri. Dian begitu pucat. Wajahnya tirus dengan perut yang agak membuncit. Kulitnya bersisik kasar karena kurang vitamin. Tanda-tanda kekurangan gizi tampak jelas di tubuhnya. Hening. Semua tenggelam dalam angan masing-masing.

“Aku ada uang lima ribu.” Wati menyodorkan selembar lima ribuan kepada Sri. “Pakailah.”
Sri terkejut. Ia pandangi wajah Wati dan uang yang berada di tangannya bergantian. Ia yakin tetangganya dari kampug itu juga sedang membutuhkan uang. Suami Wati baru saja sakit. Pasti belum bisa menarik becak seperti suaminya. Apalagi saat ia teringat dengan pesan suaminya.
“Jangan, Mbak. Pasti Mbak Wati juga membutuhkannya. Insyaalah saya masih bisa bertahan sampai bapaknya Dian pulang.”
“Aku percaya kalian masih bisa bertahan. Tapi bagaimana dengan Dian? Dia sudah begitu kurus. Dia bisa sakit Sri. Kalau sampai itu terjadi pasti biayanya akan lebih mahal. Aku yakin kamu juga tidak tahu kapan suamimu pulang.”
Sri mendesah. ibu mana yang tega anaknya sampai kekurangan gizi. Ia pun sebenarnya iba melihat nasib Dian. Ditatapnya wajah Dian yang begitu tenang. Sebutir cairan bening mengumpul memenuhi sudut-sudut matanya.

“Tapi kalau uang ini aku pinjam, bagaimana dengan Mbak Wati?”
“Tenang Sri. Aku biasa pinjam ke warung dekat rumah. Mas Darmin juga sudah sembuh. Insyaalah besok sudah bisa narik lagi.” Jawaban Wati tidak membuat Sri lega. Tapi Sri benar-benar tidak punya pilihan saat itu.
“Terimaksih, Mbak. Nanti kalau bapaknya Dian dapat uang pasti segera kukembalikan.”
“Ya sudah, cepet belanja. Aku pamit dulu. Nanti Mas Darmin bingung kalau aku tidak segera pulang.”
“Iya, iya Mbak. Sekali lagi terimaksih, Mbak.”

* * *
Derit roda sayup terdengar. Roda yang selalu berputar meyusuri setiap jengkal jalan hidupnya. Setiap deritnya selalu meberikan harapan bagi Sri dan Yanto. Harapan itulah yang membuat mereka sanggup bertahan hidup. Ia yakin nasibnya berjalan seperti roda. Kadang dibawah, namun suatu saat roda itu pasti akan bergerak ke atas. Meskipun putaran roda kehidupan itu dirasanya berjalan sangat lambat untuk bisa mencapai puncak.. Tapi roda itu tidak boleh berhenti. Harapan dan impian telah membuat roda itu tetap berputar. Bergerak. Menggelinding. Meski perlahan.

“Assalamualaikum.” Suara yang begitu dikenal muncul dari arah pintu triplek.
“Wa’alikum salam.” Sri segera menyambut dan mencium tangan si empunya suara.
Sri menatap wajah suaminya dengan mata berbinar. Yanto dibuat tak enak hati karenanya. Wajahnya pias melihat tatapan isrtinya.
“Maafkan aku, ya.” Suara Yanto tedengar berat. “Ternyata hari ini pun aku gagal mendapatkan uang lima ribu yang kujanjikan pagi tadi.” Wajahnya menunduk, takut melihat reaksi istri tercintanya.
Sri tak kaget. Ia sudah menduganya. Tangannya menggandeng tangan suaminya menuju ruang tengah yang berfungsi sebagai tempat makan sekaligus ruang tidur.

“Mas yanto pasti capek dan lapar. Sekarang, Mas makan dulu.” Ajak Sri lembut sambil membuka tudung nasi..
Yanto terlonjak. Ia tak percaya melihat hidangan istimewa di depannya. Sebakul nasi putih yang megepul hangat, semangkuk sayur bayam dan beberapa potong tempe telah tersaji rapi di atas meja kayu yang kakinya telah lapuk.
“Dari mana semua makanan ini, Sri?” Tanya yanto dengan suara gagap.
“Sudahlah, Mas Yanto makan dulu. Dari kemarin sampeyan belum makan. Kalau sampe Mas Yanto sakit, kita semua akan semakin repot.” Tangan Sri telah menyendok nasi ke piring untuk Yanto. Dengan cekatan, Sri menambahkan sepotong tempe dan sesendok sayur di atasnya.
“Tapi semua ini dari mana, Sri?” Tanya Yanto sekali lagi.
“Saya akan cerita kalau Mas Yanto mau makan.”
Yanto menurut. Dengan ragu tangannya menyendok nasi dari piring. Setelah yakin suaminya menikmati makanannya, barulah Sri bercerita.
“Mas, tadi Mbak Wati sepulang mencuci dari Bu Handoyo mampir.” Sri diam sejenak. Melihat reaksi suaminya. Kemudian mengalirlah kisah hidupnya sepagi tadi sampai akhirnya semua hidangan istimewa dapat tersaji di meja makan mereka.

Uhuk!Uhuk!
Yanto tersedak. Buru-buru Sri menuangkan air putih ke gelas plastik yang di dekatnya.
“Pelan, Mas. Nggak usah buru-buru.”
Yanto diam. Menatap wajah istrinya dalam-dalam. Begitu banyak kalimat yang ingin ia ucapkan kepada istrinya. Tapi mulutnya tetap terkunci. Ia tidak pernah tega menyakiti wanita yang begitu rela menemaninya hidup menderita. Tapi Yanto sangat gusar mengingat kejadian yang dialaminya sebelum pulang ke rumah.Rasa nikmat yang baru didapatnya lenyap seketika. Menu istimewa yang ada di depannya tidak lagi menggoda selera makannya. Hambar. Itulah yang dirasakan lidahnya saat ini.
“Kenapa kamu mau menerima uang dari Mbak Wati?” Jelas terdengar suara Yanto begitu berat.
“Sebenarnya sudah kutolak, Mas. Tapi Mbak Wati memaksa. Ia tidak tega melihat Dian, anak kita. Aku juga tidak tega kalau sampai Dian jatuh sakit karena tidak makan apa-apa. Pasti nanti kita akan butuh uang lebih banyak untuk mengobati Dian. Akhirnya aku pun menerima uang lima ribu itu. Maafkan aku, Mas. Aku tahu Mas tidak suka hutang. Tapi kita sedang tidak punya pilihan.” Ada rasa bersalah dalam nada bicara Sri. Wajahnya menunduk. Ia pun tidak berselera untuk melanjutkan sarapan yang sekaligus juga makan siang.

“Sri, sebelum pulang aku tadi mampir menjenguk Mas Darmin.Tak kulihat makanan di rumahnya. Ia sedang menunggu Mbak Wati yang meminjam uang pada Bu Handoyo setelah mencuci.” Yanto diam sejenak. Mengatr nafas yang semakin tidak teratur. “Aku semakin tidak tega saat melihat Mbak Wati diomeli pemilik warung ketika akan berhutang lagi. Apa kamu tega makan semua ini, Sri?” Yanto berdiri. Tangannya menyambar topi lusuh yang tergeletak di kursi.

“Mas Yanto mau kemana?”
“Keluar. Mencari uang untuk mengganti uang Mbak Wati.” Yanto melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Sri terpaku. Memandangi punggung suaminya yang basah oleh keringat. Ada perih di hatinya. Ada rasa bersalah yang begitu desak-mendesak dadanya. Sebutir bening telah menggantung di kedua sudut matanya.
Ia segera bergegas membungkus semua makannnya. Tak ada cara lain. Ia harus mengantarkan makanan itu untuk Wati.
“Mbak Wati, maafkan aku.” Ucap Sri hampir tak terdengar.